Hikayat ini adalah hasil alih aksara dari naskah lama yang ditulis dalam tulisan Arab pegon, dalam bahasa Sunda (yang tidak saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia). Menurut Ensiklopedi Indonesia (Ichtiar Baru - Van Hoeve, 1983, jilid IV), Hikayat Nabi Bercukur berasal dari hikayat dalam Sastra Melayu kuno yang kemudian disalin kedalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Makasar dan Bugis. Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Musium Jakarta (7 buah), Leiden, Den Haag, dan London. Sedangkan naskah dalam bahasa Sunda ini ditulis (kembali) dan digubah dalam bentuk tembang, dilakukan oleh seorang penulis dari Rajagaluh, Cirebon.
Dalam Hikayat ini antara lain dikisahkan pertanyaan dari seseorang kepada Abu Bakar r.a.: “Bila dan di depan siapa Nabi akan bercukur ?”. Dijawab oleh Abu Bakar r.a.: ”Tetkala Nabi pulang dari peperangan dengan madhi, tetkala Nabi sedang mengaji, tetkala itulah turun Jibril membawa perintah supaya Nabi bercukur.” Hikayat ini dimulai dengan pernyataan penulisnya bahwa barang siapa yang membaca hikayat ini sampai tamat, maka segala dosanya akan diampuni.
Wallahu alam.